Sabtu, 30 Mei 2020

Pidato Mendikbud Nadiem Makarim Episode 1

Ada lima pidato Pak Mentri yang saya transkrip disini. Maksud mentraskrip disini adalah mengetik kembali apa yang dibicarakan Pak Mentri dalam pidatonya yang tersaji dalam Youtube KEMENDIKBUD RI. Tujuan awal saya mentraskrip pidato Pak Mentri ini karena permintaan dosen saya, beliau menginginkan agar keempat pidato Pak mentri yang ada di youtube KEMENDIKUD RI ditranskrip dalam bentuk tulisan. 
Hikmah dari mentranskrip pidato ini adalah saya lebih mudah memahami perubahan seperti apa yang akan dilakukan Pak Mentri menuju Indonesia yang lebih baik lagi. Terus terang saya belum pernah full mendengarkan pidato Pak Mentri. Alhamdulillah lewat mentranskrip pidato Pak mentri lewat Youtube KEMENDIKBUD RI, saya mengetahui apa saja target perubahan yang akan dilakukan Pak Mentri dalam pendidikan di Indonesia.
Berikut ini Pidato Pak Mentri dari Youtube KEMENDIKBUD RI, yang saya transkrip dalam bentuk  tulisan, episode 1

Episode 1
Rapat Koordinasi Kepala Dinas Pendidikan Seluruh Indonesia, Jakarta 11 Septermber 2019
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh salam sejahtera namo buddhaya Om Swastiastu salam kebajikan.
Bapak-bapak ibu-ibu yang terhormat, apa kabar pagi ini?
Alhamdulillah Terima kasih sudah datang hari ini. Ini hari yang sangat penting karena ini merupakan peluncuran pertama konsep Merdeka belajar. Pasti Bapak-bapak juga ingin mengetahui apa saja yang akan kita lakukan hari ini akan kita umumkan, tapi mohon Bapak-Bapak dan ibu-ibu ini hanya langkah pertama ya.
Pada hari ini saya waktu pertama kali serah terima jabatan, saya ada pidato, dimana saya menyebut bahwa 100 hari pertama saya adalah untuk belajar, dan akan rencana saya baru keluar setelah 100 hari melakukan evaluasi mendengar dan belajar. Tapi karena ini Kabinet Indonesia maju, kami memutuskan untuk segera melakukan hal-hal kerja nyata. Jadi bukan hanya merencanakan saja tapi juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sangat dibutuhkan para guru-guru dan siswa-siswa seluruh Indonesia. Jadi ini adalah hasil dari pada diskusi intensif dengan ratusan stageholder, guru, kepala sekolah, Kepala Dinas, pengamat pendidik, dosen-dosen dan pakar-pakar di Indonesia dan di luar Indonesia juga. Ini adalah hasil daripada diskusi-diskusi tersebut. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada tim Kemendikbud yang juga telah membantu menyusun program-program tersebut. Terima kasihkita masuk saja kepada inisiatif nya.
Ada 4 inisiatif Merdeka belajar yang akan kita laksanakan. 4 jenis kebijakan perubahan yang sangat penting.
yang satu topik pertama adalah mengenai USBN
yang kedua adalah mengenai UN (Ujian Nasional)
yang ketiga adalah mengenai RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) 
dan yang terakhir adalah mengenai zonasi
Bapak-bapak, ibu-ibu sebelum saya masuk kepada detailnya, sekedar mengingatkan mengapa konsep Merdeka belajar ini begitu penting? Karena hanya dengan kemerdekaan kelembagaan unit pendidikan, hanya dengan kemerdekaan kreativitas dan inovasi dari pada guru, hanya dengan hal itulah pembelajaran di dalam kelas bisa terjadi secara sungguh. Ini mohon diyakini, itu yang kita butuhkan dan saya tidak akan, kami semua di Kemendikbud, tidak akan mungkin bisa mencapai ini tanpa dukungan Bapak-bapak ibu-ibu di ruangan ini.
Oke kita masuk pada topik yang pertama. USBN
Bapak-bapak, ibu-ibu semangatnya undang-undang sisdiknas itu sudah jelas, bahwa murid itu dievaluasi oleh guru dan kelulusan itu ditentukan melalui suatu penilaian yang dilakukan oleh sekolah, oleh sekolah itu memang semangatnya undang-undang Sisdiknas. Pada saat ini yang terjadi adalah dengan adanya USBN, semangat kemerdekaan sekolah itu menentukan penilaian yang tepat untuk anak-anak itu tidak terjadi atau tidak optimal, karena dia harus mengikuti soal-soal yang berstandar, artinya kebanyakan pilihan ganda kebanyakan format yang hampir sama seperti UN. Dan kurikulum 2013 itu sebenarnya semangatnya adalah kurikulum yang berdasarkan kompetensi. Kompetensi-kompetensi dasar yang ada di 2013 dan standar pendidikan kita itu, sebenarnya sangat sulit hanya dites dengan pilihan ganda, karena itu tidak cukup untuk mengetahui berbagai macam kompetensi. 
Jadi ke mana arahan kebijakan baru kita? Untuk 2020, USBN itu akan diganti, dikembalikan kepada esensi undang-undang Sisdiknas. Kepada semua setiap sekolah, untuk menyelenggarakan ujian kelulusan nya sendiri, dengan tentunya mengikuti kompetensi kompetensi dasar yang sudah ada di kurikulum kita. Jadi untuk step pertama
Ini tidak berarti Bapak ibu-ibu bahwa sekolah yang belum nyaman merubah tes kelulusannya dari yang USBN sebelumnya harus berubah. Ini harus ditekankan. Ini tidak memaksakan sekolah untuk harus berubah tes kelulusan ya. Kalau sekolah itu masih belum siap untuk melakukan perubahan, kalau ingin menggunakan format seperti USBN yang tahun lalu itu dipersilahkan. Tetapi bagi sekolah-sekolah yang ingin melakukan perubahan, bagi sekolah-sekolah yang ingin melakukan penilaian dengan cara lebih holistik itu diperbolehkan. Sehingga bisalah ini menimbulkan, menciptakan kesempatan bagi sekolah-sekolah melakukan penilaian di luar hal yang cuman pilihan ganda, seperti essay portofolio dan penugasan penugasan lain, seperti tugas kelompok karya tulis dan lain-lain. Jadinya ini kita memberikan kemerdekaan bagi guru-guru penggerak di seluruh Indonesia untuk menciptakan konsep-konsep penilaian yang lebih holistik, yang benar-benar menguji kompetensi dasar kurikulum kita, bukan hanya pengetahuan atau hafalan saja. 
Bagi Bapak-bapak di sini yang telah menganggarkan budget untuk USBN, ini bisa digunakan untuk meningkatkan kapasitas guru dan kualitas pembelajaran, yang memang di berapa daerah sudah ada. Tapi untuk 2020 bagi sekolah-sekolah yang ingin menciptakan asesmen yang lebih holistik, ini adalah kesempatan jadinya bagi guru-guru penggerak, kepala-kepala sekolah penggerak di luar, mohon ini jangan disia-siakan kesempatan ini. Namun ini juga bukan pemaksaan bagi sekolah-sekolah dan guru-guru yang belum siap, yang masih ingin mengikuti format yang sebelumnya itu silahkan. Ini adalah kebijakan USBN kita.
Untuk yang kedua UN
Ada beberapa hal. Ada beberapa isu atau masalah dengan UN pada saat ini. Dan ini berdasarkan survei dan diskusi dengan berbagai macam orang tua, siswa guru-guru dan kepala sekolah, juga materi UN itu yang terlalu padat, sehingga cenderung fokusnya adalah mengajarkan materi, menghafal materi dan bukan kompetensi pelajaran.
Kedua isinya adalah ini sudah menjadi beban stres bagi banyak siswa, Guru dan Orang Tua, karena sebenarnya ini berubah menjadi indikator keberhasilan siswa sebagai individu. Padahal maksudnya Ujian Nasional berstandar nasional adalah untuk mengakses sistem pendidikan yaitu sekolahnya, maupun geografinya, maupun sistem pendidikannya secara nasional. Dan UN hanya menilai satu aspek yaitu yang kognitifnya. Bahkan nggak semua aspek kognitif kompetensi dites lebih banyak kepenguasaan materinya dan belum menyentuh karakter siswa secara lebih holistik. Jadi apa perubahan yang akan kita lakukan?
Untuk 2020, UN akan dilaksanakan sesuai seperti tahun sebelumnya ya. Jadi untuk 2020 bagi orang tua yang sudah investasi banyak untuk anaknya belajar untuk mendapat angka terbaik di UN, itu silakan lanjut untuk 2020, tapi itu hari terakhir UN seperti format sekarang diselenggarakan. Di tahun 2021 UN itu akan diganti menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter.
Akan saya jelaskan  :
Yang pertama adalah penyederhanaan Bapak-bapak, ibu-ibu kayaknya kita semua di ruangan ini setuju secara nasional kita membutuhkan tolak ukur. Tidak bisa sama sekali kita tidak punya tolak ukur, tapi apa yang diukur dan siapa yang diukur? itu yang akan berubah.Asesmen kompetensi minimum adalah kompetensi yang benar-benar minimum. Kita bisa memetakan sekolah-sekolah dan daerah-daerah berdasarkan kompetensi minimum. Apa itu materinya? Materinya yang bagian kognitif yaitu hanya dua, pertama adalah literasi dan kedua adalah numerasi.
Literasi itu bukan hanya kemampuan membaca Bapak-bapak dan ibu-ibu. Literasi adalah kemampuan menganalisa suatu bacaan, kemampuan mengerti atau memahami konsep dibalik tulisan tersebut, itu yang penting. Kedua numerasi itu adalah kemampuan menganalisa menggunakan angka-angka dan matematika ya. Ini adalah dua hal yang akan menyederhanakan asesmen kompetensi yang dilakukan mulai tahun 2021. Jadinya ini bukan berdasarkan mata pelajaran lagi, bukan berdasarkan penguasaan konten atau materi. Ini berdasarkan kompetensi minimum, kompetensi dasar yang dibutuhkan murid-murid untuk bisa belajar apapun materinya. Ini adalah kompetensi minimum yang dibutuhkan murid untuk bisa belajar apapun mata pelajarannya.
Dan yang terakhir adalah akan ada survei karakter. Ini luar biasa pentingnya Bapak-bapak dan ibu-ibu. Nah, pada saat ini secara nasional hanya data yang kita punya ini, hanya data kognitif. Kita tidak mengetahui mengenai kondisi ekosistem di dalam sekolahnya murid kita. kita tidak mengetahui apakah asas-asas Pancasila itu benar-benar dirasakan oleh siswa-siswa se-indonesia. Kita akan menanyakan survei-survei untuk mengetahui Dekosistem sekolahnya. Bagaimana implementasi gotong royong? Apakah level toleransinya sehat dan baik di dalam sekolah itu? Apakah well-being atau kebahagiaan anak itu sudah mapan? Apakah ada bullying yang terjadi kepada siswa-siswi di sekolah itu? Survei ini akan menjadi suatu panduan buat sekolahnya, kami, Dinas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Survei karakter ini akan menjadi tolak ukur untuk bisa memberikan umpan balik, memberikan feedback kepada sekolah-sekolah untuk melakukan perubahan-perubahan yang akan menciptakan siswa-siswi yang lebih bahagia dan juga lebih kuat azas-azas Pancasila di dalam lingkungan sekolah. 
Yang pertama dari sisi materinya dan yang kedua adalah kapan asesmen Kompetensi ini dilakukanitu sangat penting. Yang tadinya di akhir jenjang, kita akan ubah itu di tengah jenjang. Ya yang tadinya di akhir jenjang kita akan ubah di tengah jenjang. Kenapa? Dua alasan, alasan pertama adalah kalau dilakukan di tengah jenjang, ini memberikan waktu untuk sekolah dan guru-guru untuk melakukan perbaikan sebelum anak itu lulus jenjang itu. Bayangkan Bapak ibu-ibu sekarang kita memberikan asesmen, tapi itu guru dan kepala sekolah sudah tidak bisa melakukan perbaikan kepada murid-murid yang benar-benar membutuhkan bantuan ekstra, maupun juga peningkatan kualitas pembelajaran mengikuti hasil asesmen tersebut. Kalau itu dilaksanakan di tengah jenjang, ini memberikan waktu bagi semua unit pendidikan kita untuk melakukan perbaikan. Dan yang kedua karena dilakukan ditengah jenjang, ini tidak bisa digunakan sebagai alat seleksi untuk siswa-siswi kita. Tidak lagi menimbulkan stres di orang tua dan anak-anak, karena ini adalah formative assessment. Formatif artinya harus berguna bagi sekolah, berguna bagi guru untuk memperbaiki dirinya. Dan poin ketiga yang terpenting ini kita asesmen kompetensi ini dan survei karakter ini, bukan hanya kita mengikuti ide-ide kita sendiri saja. Kami dibantu berbagai macam organisasi di dalam dan di luar Indonesia, dan banyak sekali bantuan seperti organisasi seperti OICD dan Work Bank juga agar asesmen Kompetensi ini kualitasnya sangat baik, agar kualitasnya setara dengan kualitas internasional, tapi juga penuh dengan kearifan lokal kita ya. Jadi ini kita gotong royong untuk menciptakan rasa senang kompetensi yang lebih baik.
Jadi ini sekedar menekankan saja bahwa numerasi dan literasi Itu bukan mata pelajaran bahasa, bukan mata pelajaran matematika tapi kemampuan murid-murid menggunakan konsep itu untuk menganalisa sebuah materi, seperti yang di sebelah kiri Ini ada suatu paragraf dan diagram mengenai climate change mengenai masalah lingkungan hidup kita dan dari situlah murid-murid akan harus bisa menggunakan higer order thinking, menggunakan daya analisa dia untuk menjawab pertanyaannya ya. Dan untuk yang contoh seperti yang matematika kemampuan menganalisa itu berdasarkan kontekstual intelijen, bahwa dia bisa mengaplikasikan konsep matematika itu di dalam suatu situasi, baik abstrak maupun konkrit, yang ini contoh, untuk yang ini kita ambil contoh dari Pisa. Ini sekedar memberikan gambaran apa perubahannya dari yang Ujian Nasional sebelumnya.
Inisiatif ke-3, didedikasikan untuk para guru-guru. yang tadinya RPP ada 13 komponen yang begitu padat dan menjadi beban yang begitu berat bagi guru-guru. Kita akan merubahnya menjadi format yang jauh lebih sederhana. Cukup satu halaman saja untuk RPP. Cukup satu halaman saja jadi yang tadinya ada belasan komponen, kita bikin tiga komponen saja, tiga komponen inti yaitu tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan asesmen atau penilaian pembelajaran. Yang akan diberikan berbagai macam contoh-contoh contoh RPP yang cuman satu halaman saja sudah cukup, karena Bapak-bapak dan ibu-ibu yang penting mengenai RPP itu bukan hanya penulisannya, sebenarnya esensinya RPP atau lesson plan adalah proses refleksi daripada guru itu. Pada saat dia menulis suatu RPP dilaksanakan di kelas, besoknya dia kembali kepada RPP itu untuk melakukan refleksi, tercapai nggak apa yang saya maksudkan. Dari situlah pembelajaran terjadi bukan dengan nulis 10 halaman sekedar buat administrasi.
Mohon bantuan Bapak-bapak, ibu-ibu untuk mengkomunikasikan ini kepada semua pengawas, di bawah Bapak-bapak dan ibu-ibu agar mengerti esensinya ini, dan agar ini dilakukan tapi tidak menjadi beban yang terlalu berat, karena esensinya adalah proses itu terjadi itu yang penting, yang tentunya kami akan memberikan berbagai macam contoh-contoh RPP yang singkat, tapi kualitasnya bagus juga. Jadi RPP cukup satu halaman.
Yang berikutnya zonasi. Zonasi Bapak-bapak dan ibu-ibu itu sangat penting, dan kami di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendukung penuh inisiatif zonasi. Tapi ada berbagai macam daerah yang mengalami kesulitan. Kami sadar, nggak semua daerah itu siap untuk suatu pollesi zonasi yang sangat rigid. Sebelumnya jalur zonasi minimal 80%, jalur prestasi hanya 15%, dan perpindahan 5%. Jadi kami ingin menciptakan suatu kebijakan yang bisa melaksanakan esensi atau semangat zonasi yaitu pemerataan bagi semua murid untuk bisa mendapatkan kualitas yang baik, tetapi juga mengakomodir perbedaan di situasi di daerah-daerah. Jadi arahan kebijakan kedepannya adalah sedikit kelonggaran kita memberikan zonasi. Yang tadinya jalur prestasi itu cuman 15%, sekarang jalur prestasi kami perbolehkan sampai dengan 30%Jadi bagi Ibu-ibu dan bapak-bapak orang tua yang sangat semangat mempush anaknya untuk mendapatkan angka yang baik, untuk mendapatkan prestasi yang baik, inilah menjadi kesempatan untuk mereka untuk mencapai sekolah yang mereka inginkan. Tetapi tetap 70% itu mengikuti tiga kriteria, yaitu minimum zonasi adalah 50%, jalur afirmasi minimal 15%. Afirmasi adalah pemegang Kartu Indonesia Pintar. Dan tentunya jalur perpindahan itu 5 % dan sisanya sampai 30 % adalah jalur prestasi. Ini suatu kompromi diantara aspirasi kita untuk mencapai pemerataan, tapi juga apresiasi orang tua yang juga ingin anaknya yang prestasi bisa mendapatkan choice atau pilihan dimana sekolah yang diinginkan. Ya tentunya jangan lupa Bapak-bapak dan ibu-ibu bahwa zonasi bukan berarti pemerataan, tidak cukup hanya dengan zonasi. 
Yang dampaknya lebih besar lagi adalah pemerataan kuantitas dan kualitas guru. benar enggak Bapak? Itu yang lebih, lebih banyak dampaknya kepada pemerataan pendidikan. Dan itu yang saya membutuhkan dukungan Bapak-bapak dan ibu-ibu untuk segera melakukan evaluasi paling tidak dari jumlah kuantitas guru. Kalau ada sekolah-sekolah yang banyak sekali guru berkumpul di sekolah itu, untuk dilakukan distribusi yang lebih adil bagi siswa-siswa di dalam sekolah yang kekurangan guru. Dan ini tentunya Kemendikbud tidak bisa melakukan ini tanpa bantuan kepada Kepala-Kepala Dinas. Jadi mohon support-nya Bapak untuk ingin menjadi prioritas nomor satu untuk sekolah-sekolah yang kekurangan guru, mohon dilakukan distribusi yang baik, demi siswa-siswi kita .
Singkat jadi 4 topik tadi, mungkin kita samraise halaman tadi yang 1, 2, 3, 4Sekian presentasi saya Bapak-bapak dan ibu-ibu. Ini adalah ronde pertama Ya. Ini adalah ronde pertama Merdeka belajar.Tidak ada perubahan yang nyaman-nyaman saja. Semua perubahan itu pasti ada tantangannya. Semua perubahan pasti ada ketidaknyamanannya, tetapi seperti yang kita tahu sudah waktunya Indonesia melompat ke depan, bukan hanya melangkah. Sudah waktunya kita melompat ke depan, saat kita memberikan kemerdekaan kepada guru-guru kita, dan kepada kepala-kepala sekolah kita untuk bergerak. Dengan adanya perubahan di system assessment kita, yaitu ujian sekolah dikembalikan lagi kepada sekolah, Ujian Nasional tidak mengukur materi penguasaan materi tapi penguasaan kompetensi. RPP disederhanakan jadi satu halaman dan zonasi masih bisa mengakomodir anak-anak berprestasi. Kita memberikan langkah pertama kemerdekaan belajar di Indonesia. Mohon dukungannya Bapak-bapak dan ibu-ibu. wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Link Youtube Pidato Pak Nadiem Episode 1
https://youtu.be/vh-rdXvt0Dw
Bersambung episode 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar